Minggu, 22 November 2009

Pdt. A.H. Mandey : Hamba Tuhan Pantekosta Harus Kembali Pada Semangat Mula-Mula

Salah satu hal menarik dari Musyawarah Pimpinan (Muspim) GPdI yang digelar tahun ini adalah pernyataan Ketua Umum Majelis Pusat (MP) GPdI, Pdt. A.H. Mandey dalam pidato pembukaan.

Dalam pidato pembukaan yang dilakukan sesaat sebelum pemukulan gong tanda dimulainya perhelatan akbar pimpinan salah satu lembaga gerejawi terbesar di Indonesia ini, A.H. Mandey yang juga salah satu tokoh Kristen terkemuka di Indonesia ini menyatakan bahwa hamba Tuhan dilingkungan GPdI harus kembali kepada semangat mula-mula.

“Hamba Tuhan Pantekosta harus bertobat. Kita harus kembali pada semangat mula-mula. Api Pantekosta yang datang ke Indonesia hingga membawa kegerakan besar bagi pekerjaan Tuhan di negeri ini. Kita harus memulihkan kembali kehidupan doa dan kebersandaran penuh kepada Roh Kudus dalam pelayanan kita,” ungkap A.H. Mandey.

Pada bagian lain mengenai langkah kongkrit yang harus diambil oleh segenap jajaran hamba Tuhan GPdI, dalam rangka kembali ke Api Pantekosta, Mandey merumuskan beberapa hal yang juga menjadi semangat dasar pelaksanaan Muspim GPdI kali ini.

Beberapa hal mendasar tersebut diantaranya, kembali pada kehidupan doa dan puasa yang menjadi tiang perkembangan gereja, kembali pada kehidupan pelayanan yang mengutamakan tuntunan Roh Kudus dan kembali merekatkan tali kasih antar pelayan Tuhan hingga dapat mengoptimalkan jejaring dalam pelayanan di lingkungan GPdI (copyright@gemasurgawi).

Muspim GPdI Angkat Tema Kwalitas Karakter Hamba Tuhan

Menyadari pentingnya optimalisasi kwalitas karakter seorang hamba Tuhan dalam rangka keberhasilan pelayanan, Musyawarah Pimpinan (Muspim) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) mengangkat tema “Meningkatkan Karakter hamba Tuhan untuk melipatgandakan pertumbuhan jemaat gereja lokal dan pengembangan pelayanan global”. Demikian berita yang dilansir Tabloid Mingguan GLORIA.

Adapun tema dari acara yang diselenggarakan di Kusuma Agrowisata Hotel, Batu, Jawa Timur, 26-28 Oktober lalu diimplementasikan pada subtema “Jadilah teladan bagi jemaat dan masyarakat dalam tingkah laku, kasih, kesetiaan an kesucian sebagaimana terdapat dalam I Timotius 1:12.

Berdasarkan pengamatan Yosua dari GLORIA yang turun langsung meliput acara tersebut, sekitar 400 orang pimpinan dan pengurus lembaga-lembaga di lingkungan GPdI se-Indonesia turut hadir dalam acara yang dibuka langsung oleh Ketua Umum Majelis Pusat (MP) GPdI periode 2007-2012, Pdt. A.H. Mandey.

Dalam pidato pembukaan sebelum pemukulan gong, A.H Mandey yang dikenal sebagai salah satu pendeta senior di Indonesia ini mengingatkan setiap peserta yang hadir agar senantiasa bersandar kepada Tuhan dan kembali kepada semangat mula-mula “Kegerakan Pantekosta” ketika hadir di Indonesia.

Mengenai hal ini lebih lanjut ia mengatakan, “Semua hamba Tuhan Pantekosta harus melakukan bertobat, kita harus kembali ke Api Pantekosta yang mula-mula ketika Tuhan memakai Klaveren dan Groesbeek membawa api itu ke Indonesia. Kita harus menjaga api Roh Kudus dalam pelayanan kita agar dapat menghadapi tantangan jaman dengan baik. Jangan terpengaruh dengan roh materialisme dan spirit jaman yang tidak berkenan dihadapan Tuhan.”

Dalam rangka pencapaian tujuan tema, acara yang dihelat selama 3 hari ini diisi dengan evaluasi program, sidang komisi, sidang pleno dan berbagai acara lain yang berorientasi pada evaluasi pelayanan dan penajaman rencana pelayanan bersama dari denominasi Pentakosta tertua dan cikal bakal semua gereja Pentakosta di Indonesia ini.Terkait dengan acara beberapa peserta yang sempat dijumpai GLORIA menyatakan rasa puas dan harapannya agar semangat yang terdapat dalam Muspim ini dapat senantiasa dipertahankan dalam pelayanan agar terus berjalan dengan baik. “Puji Tuhan, luar biasa Muspim ini, kiranya dapat mengoptimalkan pelayanan GPdI secara kelembagaan dan pelayanan di gereja lokal, ungkap Pdt. Dr. Stefanus Hadi Prasetyo, salah satu peserta kepada GLORIA(Yos)(Copyright: Tabloid GLORIA-Jawa Pos Group)

Pdt. Dr. Erastus Sabdono : Gereja Harus Menjadi Pusat Pendidikan Teologi

Ditengah maraknya perkembangan pendidikan teologi formal di berbagai tempat, Gembala Sidang GBI Rehobot dan Pimpinan Rehobot Ministry, Pdt. Dr. Erastus Sabdono, M.Th justru menyatakan sebaliknya. Gereja yang selama ini dipandang hanya sebagai “pasar” dari produk hamba Tuhan yang dihasilkan oleh Institusi Teologi justru harus menjadi pusat dari pendidikan teologi.

“Agar pelayanan pengajaran yang merupakan kunci dasar dari optimalisasi pembinaan jemaat dapat berhasil dengan baik, gereja harus menjadi pusat pendidikan teologi. Jemaat yang ada digereja hendaknya dididik dengan standarisasi pendidikan teologi yang baik, agar mereka dapat menjadi pewarta kebenaran yang baik,” ungkap Erastus yang juga pemilik 2 gelar doktor ini.

Hal tersebut dinyatakan Erastus dalam sebuah wawancara dengan Tabloid Gloria, di sela-sela acara seminar dalam rangka Ulang Tahun Radio Sola Gracia Malang beberapa saat lalu. Adapun acara ini sendiri diadakan di GPdI Lembah Dieng, Malang.

Dalam pernyataannya, Erastus yang juga mantan Rektor Seminari Bethel Jakarta (ITKI Jakarta) ini menyatakan bahwa pembinaan teologi yang diselenggarakan di gereja jauh lebih efektif dibandingkan pembinaan di institusi teologi. Hal ini terjadi karena di gereja, dari sisi waktu maupun kedekatan jemaat dan pimbina jauh lebih lama dan dekat.

“Sekarang kalau di seminari atau institusi teologi paling lama interaksi waktunya kan Cuma 5 tahun, tapi kalau di jemaat, terutama jemaat dalam karakteristik tertentu, dimana jemaat tinggal dalam waktu lama di gereja, durasi waktu dan kedekatannya kan lebih lama. Nah kalau sudah begini kan lebih optimal jika pembinaan dilakukan di gereja atau jemaat?” imbuh Pak Eras (Panggilan akrab Pdt. Erastus Sabdono).

Selain dari sisi durasi waktu dan kedekatan, pembinaan teologi di lingkungan jemaat atau gereja dipandang penting karena kebutuhan jemaat. Menurutnya jemaat merupakan pribadi yang langsung berinteraksi dengan dunia umum sehingga tantangan yang dihadapi terhadap iman mereka semakin nyata.

“Kalau kita mau jujur, hamba Tuhan ini kan kebanyakan dibelakang layar dan kurang berinteraksi langsung dengan kehidupan nyata. Yang lebih banyak menghadapinya kan jemaat. Jadi tidak ada jalan lain mereka harus dibekali sedemikian rupa agar dapat mengoptimalkan pemahaman iman dan memberikan jawaban terhadap pertanyaan dan tantangan yang mereka hadapi,” tutup Erastus Sabdono(Copyright@yosua/Tabloid Gloria).

Minggu, 15 November 2009

Selamat datang di blog berita pelayanan GEMA SURGAWI.

Selamat datang di blog berita pelayanan GEMA SURGAWI. Blog berita pelayanan ini merupakan salah satu bagian dari pelayanan Voice of Ministry (VOM) khususnya Bidang Pelayanan Online dan Bidang Jurnalistik-Multimedia.

Melalui weblog ini diharapkan akan muncul blog dan produk online serupa yang bertujuan untuk saling berbagi dan "memberkati" antar komponen tubuh Kristus untuk melayani bersama melalui dunia online.

Saat ini weblog GEMA SURGAWI masih dalam proses maintenance. Harapan kami hal sederhana yang kami buat ini dapat menjadi berkat bagi upaya proklamasi kabar sukacita keselamatan di dalam pribadi Kristus khususnya melalui media online.



Redaksi GEMA SURGAWI

Pengikut